KACAREALITA, PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk melalui patroli, pemantauan kawasan rawan hingga pemadaman melalui operasi darat dan udara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode puncak kemarau. Sebagian besar wilayah Kalteng diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026.
BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 secara umum lebih kering dibandingkan kondisi normal. Dalam pemutakhiran Juni 2026, sebanyak 482 Zona Musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Durasi musim kemarau di sebagian besar wilayah juga diperkirakan lebih panjang dari normal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi Kalteng yang memiliki kawasan lahan gambut dan wilayah rawan karhutla.
256 Titik Panas Terdeteksi pada 4 Agustus
Upaya penanganan karhutla di Kalteng terus dilakukan melalui Operasi Siaga Darurat Karhutla yang melibatkan Satgas Udara, Satgas Darat serta unsur gabungan lintas sektor.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya pada 4 Agustus 2026, terpantau 256 titik panas di wilayah Kalimantan Tengah.
Sebaran titik panas terbanyak berada di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 62 titik, Kabupaten Pulang Pisau 57 titik, dan Kabupaten Sukamara 33 titik.
Tim gabungan juga melakukan penanganan di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Tumbang Nusa dan Tanjung Taruna di Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan serta Kameloh Baru.
Operasi Darat dan Udara Diperkuat
Dalam operasi tersebut, Satgas Udara mengerahkan armada patroli udara untuk memantau wilayah yang rawan karhutla. Helikopter water bombing juga disiagakan untuk mendukung proses pemadaman berdasarkan hasil pemantauan dan kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, Satgas Darat mengerahkan 17 regu yang bertugas melakukan pemadaman, patroli kawasan rawan, pendinginan lokasi yang terbakar serta merespons laporan kebakaran.
Di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, operasi gabungan diperkuat dengan 32 regu yang berasal dari berbagai unsur, termasuk BPBPK Provinsi Kalteng, TNI, Polri, Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK), Masyarakat Peduli Api (MPA), Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) dan unsur pendukung lainnya.
Fokus penanganan meliputi pemadaman titik api, pendinginan lahan gambut, patroli kawasan rawan serta pencegahan agar api tidak kembali muncul dan meluas.
4.883 Hotspot Tercatat Sejak Awal Tahun
Data penanganan hingga 4 Agustus 2026 menunjukkan Kalteng mencatat 238 titik hotspot harian dengan 25 kejadian karhutla, satu kegiatan groundcheck dan luas lahan terdampak mencapai 43,608 hektare.
Secara akumulatif sejak 1 Januari hingga 4 Agustus 2026, tercatat 4.883 titik hotspot, 933 kejadian karhutla dan total luas lahan terbakar mencapai 1.760,74 hektare.
Sebagian besar lokasi kebakaran telah berhasil dikendalikan. Namun, sejumlah titik masih dalam proses pemadaman dan pendinginan, terutama di kawasan lahan gambut yang memiliki potensi api kembali muncul dan menyebar.
Patroli darat dan udara juga terus dilakukan untuk memantau perkembangan titik panas sekaligus mencegah munculnya titik api baru.
Status Siaga Darurat Masih Berlaku
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla mulai 26 Mei hingga 31 Oktober 2026.
Sejumlah daerah juga telah menetapkan status kedaruratan masing-masing. Kota Palangka Raya menetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla terhitung 28 Juli hingga 10 Agustus 2026, sedangkan Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan status serupa mulai 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Status tersebut menjadi dasar penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh unsur dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau.
Dishut Kalteng Perkuat Patroli
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Apel Siaga Karhutla 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Kalteng bersama Gerakan Pemuda (GP) Ansor di halaman Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (6/8/2026).
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menegaskan bahwa karhutla bukan hanya persoalan api, tetapi dapat memberikan dampak luas terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, perekonomian hingga masa depan generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng Agustan Saining mengatakan penanganan karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha hingga masyarakat.
Menurut Agustan, Dinas Kehutanan melalui jajaran Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan melakukan patroli rutin, memantau kawasan rawan serta memastikan personel dan peralatan siap digunakan ketika terjadi kebakaran.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Selain mengandalkan operasi pemadaman, pemerintah juga menekankan pentingnya pencegahan.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membuka lahan dengan cara membakar.
BMKG juga mengingatkan bahwa pembakaran lahan dalam skala kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan kering dan angin mendukung penyebaran api.
Karhutla tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat.
Karena itu, kewaspadaan diperlukan bukan hanya oleh petugas pemadam, tetapi juga masyarakat, pemerintah desa, perusahaan, pemilik lahan dan seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan rawan kebakaran.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengendalian
Pemerintah Provinsi Kalteng menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam menghadapi ancaman karhutla.
Di lapangan, personel gabungan dari BPBPK, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, BPBD kabupaten/kota, pemadam swakarsa dan relawan terus terlibat dalam pengendalian kebakaran.
Upaya tersebut dilakukan secara bersamaan melalui deteksi dini, patroli, pemadaman, pendinginan dan sosialisasi kepada masyarakat.
Dengan memasuki puncak musim kemarau, penguatan pencegahan menjadi semakin penting agar titik api yang muncul tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Warga Diminta Pantau Informasi BMKG
Meski memasuki musim kemarau, kondisi cuaca harian tidak berarti seluruh wilayah Kalteng akan selalu mengalami cuaca kering tanpa hujan.
BMKG Kalteng tetap memperbarui prospek cuaca berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer. Prospek cuaca yang diperbarui pada 8 Agustus berlaku untuk periode 8–14 Agustus 2026.
Masyarakat diimbau terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan maupun di sekitar kawasan yang rawan kebakaran.
Puncak kemarau Agustus 2026 kini menjadi momentum penting bagi seluruh pihak di Kalimantan Tengah untuk memperkuat pencegahan. Dengan patroli yang konsisten, respons cepat dan keterlibatan masyarakat, risiko karhutla diharapkan dapat ditekan dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat dapat diminimalkan.

Tinggalkan Balasan